Lynx melirik ke arah Leena yang duduk di sudut gua, sibuk menghaluskan ujung tongkat kayunya dengan batu tajam.  Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Meski jarak di antara mereka hanya beberapa langkah, atmosfer di antara mereka terasa dingin dan penuh jarak.

Lynx menarik napas panjang dan mendekatinya perlahan.

"Leena," panggilnya lembut, suara seraknya hampir tenggelam oleh gesekan batu dengan kayu.

Leena tidak menjawab. Dia hanya melirik Lynx sekilas, lalu kembali sibuk dengan tongkatnya. Lynx mengusap tengkuk, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan.

"Aku tahu aku sudah bilang ini berkali-kali," katanya, suaranya pelan, "tapi aku benar-benar ingin minta maaf soal tadi."

Leena menghentikan tangannya. Dia menoleh, alisnya terangkat sedikit, menunjukkan ekspresi datar yang sulit dibaca. "Lynx, berapa kali lagi kau mau meminta maaf?" nada suaranya terdengar tajam, meskipun di baliknya ada perasaan yang dia sembunyikan.

"Aku hanya... ingin memastikan kau tahu aku sungguh menyesal," balas Lynx tulus, menatapnya dengan ekspresi bersalah. "Aku tidak ingin kita terus begini."

Leena mendesah pelan, mengangkat tongkatnya seolah ingin memeriksa hasil pekerjaannya. Dia sebenarnya sudah memaafkan Lynx. Dia yakin bahwa kejadian saat itu adalah ulah Sherly, bukan kesalahan Lynx. Namun, rasa malu karena Lynx mengatakan dia mengira malam itu adalah Leena bukan Sherly membuatnya memilih berpura-pura marah.

"Kesalahpahaman itu sudah terjadi," katanya akhirnya, nada suaranya dingin. "Tidak ada gunanya terus memikirkannya."

Lynx menggigit bibir, merasa kata-katanya tidak cukup. Dia merogoh kantong kecil yang diikat di pinggangnya dan mengeluarkan sebuah batu kecil berwarna biru terang dengan permukaan halus. "Aku menemukan ini tadi saat mencari makanan. Kupikir kau mungkin menyukainya."

Leena melirik batu itu dengan rasa ingin tahu, tapi dia hanya memberikan anggukan singkat. Dia menyembunyikan ketertarikannya dan kembali fokus pada tongkatnya.

Di sisi lain gua, Sherly memperhatikan mereka dari kejauhan dengan rahang mengatup. Ia merasa semakin dilupakan oleh perhatian Lynx yang sepenuhnya tertuju pada Leena. Matanya menyipit, menyiratkan kemarahan yang mulai mengendap.

Malam itu, saat api unggun menyala, Sherly melihat peluang untuk mendekati Lynx yang sedang memeriksa tumpukan dahan kering.

"Lynx," sapanya dengan suara lembut, sambil duduk di dekatnya. "Seharian ini kau sibuk mencoba menyenangkan hati Leena. Kapan terakhir kali kau memikirkan dirimu sendiri?"

Lynx mendongak, sedikit terkejut dengan pernyataan Sherly. "Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar."

Sherly mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arahnya. "Tapi kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku ada di sini untuk membantumu, kau tahu."

Lynx tersenyum tipis. "Aku menghargai itu, Sherly, tapi ini bukan soal aku. Aku hanya ingin memastikan kita semua aman."

Sherly menahan diri untuk tidak menunjukkan kekecewaannya. Dia melirik ke arah Leena yang tengah berbaring di sudut lain gua, pura-pura tidak peduli dengan percakapan mereka. Dalam hati, Sherly merasa dia harus mengambil langkah lebih tegas jika ingin merebut perhatian Lynx sepenuhnya.

Keesokan harinya, Lynx memutuskan untuk berburu sendirian. Dia merasa perlu menjernihkan pikirannya. Di hutan, dia menyusuri perangkap-perangkap yang dia pasang sebelumnya. Namun, saat memeriksa salah satu perangkap, dia mendengar suara gemerisik di semak-semak.

Lynx segera menempelkan tubuhnya ke batang pohon, matanya menyapu sekeliling. Tidak lama kemudian, seorang pria dengan pakaian aneh muncul dari balik dedaunan. Pria itu membawa tombak kecil, namun wajahnya terlihat gugup.

Dia berbeda dari suku Monrest yang Lynx temui sebelumnya. Pakaiannya sederhana dari bahan kulit binatang, terdapat motif-motif bulu burung di dadanya, dengan rambut panjang yang diikat. Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya membeku sejenak.

Lynx melangkah mundur, bersiap melarikan diri. Pria itu, yang terlihat sama terkejutnya, segera berbalik dan lari ke arah berlawanan.

Lynx terus berlari hingga yakin dirinya cukup jauh. Dia berhenti di sebuah pohon besar, mencoba mengatur napas. Dia menoleh, berharap pria itu tidak mengejarnya, tetapi tidak ada tanda-tanda pengejaran.

Dia merasa aneh. "Kenapa dia lari juga?" gumamnya, kebingungan.

Penasaran, Lynx kembali ke jejak pria tadi, kali ini dengan lebih hati-hati. Dia mengikuti jejak kaki itu hingga menemukan sebuah perkampungan kecil tersembunyi di tengah pepohonan. Penduduk kampung itu tampak damai, sibuk berkebun dan menenun kain. Anak-anak bermain riang, sementara orang dewasa bekerja sama membangun sebuah pondok baru.

Lynx mengamati mereka dari kejauhan, memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan atau ancaman. Mereka jelas berbeda dari suku Monrest yang ganas dan liar.Pakaian mereka terlihat sederhana dari bahan alam seperti kulit binatang dan tumbuhan. Para prianya memiliki tato dengan motif-motif alam seperti daun, bunga, atau bulu burung. Rambut mereka panjang dan digelung rapi.

Lynx segera kembali ke gua dengan wajah penuh kegelisahan. Setelah menjelaskan temuannya kepada Leena dan Sherly, mereka sepakat untuk mengintai lebih dekat.

Malam itu, mereka menyelinap ke tepi perkampungan, bersembunyi di balik semak-semak. Dari tempat mereka bersembunyi, mereka melihat orang-orang kampung itu melakukan berbagai aktivitas sederhana, seperti memasak, menenun, dan mengukir peralatan dari kayu.

"Kelihatannya mereka bukan ancaman," bisik Lynx.

Leena mengangguk, memperhatikan seorang wanita yang sedang menenun jaring dari serat pohon. "Mereka tampaknya hidup selaras dengan alam, tidak terlihat orang yang kasar."

Sherly mendengus pelan. "Kau tidak tahu itu pasti. Mereka mungkin hanya terlihat ramah di permukaan."

Lynx mengamati sekeliling. Tidak ada tanda-tanda persenjataan berat atau penjaga. Namun, dia tidak ingin gegabah. "Kita akan mengamati lebih lama," katanya. "Aku ingin tahu siapa mereka sebenarnya.

Leena menatap Lynx dengan penuh keseriusan. "Jangan sampai kita membuat kesalahan. Mereka bisa jadi teman... atau musuh."

Saat kembali ke gua, Sherly mulai melampiaskan rasa frustrasinya.

"Kau selalu mendengar apa yang Leena katakan," katanya dengan suara penuh emosi. "Kenapa tidak sekali-kali kau percaya padaku?"

Lynx mengernyitkan dahi, merasa bingung. "Ini bukan soal kepercayaan, Sherly. Aku hanya mencoba mengambil keputusan yang paling masuk akal."

"Tapi kau selalu mengikuti pendapat Leena!" Sherly memotong dengan nada tajam.

Leena, yang mendengarkan dari sudut gua, akhirnya angkat bicara. "Sherly, berhentilah bersikap seperti ini. Lynx hanya berusaha menjaga kita semua."

Sherly menatap Leena dengan mata membara. "Tentu saja kau membelanya. Kau selalu ingin menjadi yang terdekat dengannya."

"Sudah cukup, kalian berdua!" Lynx memotong tegas. "Kita tidak punya waktu untuk bertengkar. Kita harus fokus pada apa yang ada di depan kita."

Namun, Lynx tahu bahwa konflik di antara mereka tidak akan mudah reda. Di dalam hatinya, dia mulai merasa terjebak di antara dua perasaan dan dua pribadi yang sama-sama penting baginya.

Hutan itu selalu sunyi, namun bukan berarti tidak ada yang bergerak di dalamnya. Dari celah dedaunan lebat, Lynx mengamati kampung tersembunyi di kejauhan. Ini sudah hari ketiga ia kembali ke tempat itu, mencoba memahami siapa penduduk di sana.

Dari balik dedaunan lebat, ia berjongkok, mengintip aktivitas penduduk yang sedang menjalani kehidupan sehari-hari. Kali ini ia memutuskan untuk tinggal lebih lama, berharap dapat memahami lebih banyak tentang siapa mereka sebenarnya.

Mata Lynx tertuju pada seorang wanita yang tampaknya baru kembali dari hutan. Di tangannya tergantung dua keranjang anyaman penuh daun dan akar tanaman. Wanita itu berjalan perlahan menuju sebuah gubuk di ujung kampung, di mana seorang pria tua duduk di depan pintu, memotong-motong cabang pohon dengan pisau kecil. Wanita itu berbicara sebentar dengannya sebelum menghilang masuk ke dalam gubuk.

Di sebelah mereka, seorang anak kecil tampak memanjat pohon jambu yang tumbuh di tengah kampung. Anak itu memetik buah-buah yang matang dan memasukkannya ke dalam tas anyaman yang tersampir di pundaknya. Namun, bukannya memetik semua buah di cabang itu, anak itu hanya mengambil sebagian, meninggalkan sisanya.

Lynx memperhatikan ini dengan saksama. Penduduk kampung ini tampaknya mengambil hanya apa yang mereka butuhkan, tidak lebih.

Di tepi kampung, sebuah kebun kecil terlihat penuh dengan tanaman sayur. Dua wanita tengah bekerja di sana, mencabut gulma dan menaburkan air dari bejana tanah liat yang tampaknya dibuat sendiri. Mereka tidak menggunakan alat berat, hanya cangkul kecil dari kayu dan tangan mereka. Di sudut kebun, sebuah patung kayu kecil terlihat berdiri, mungkin sebagai lambang perlindungan bagi tanaman mereka.

Anak-anak bermain di jalan setapak, berlari dan tertawa tanpa rasa takut sedikitpun. Beberapa di antara mereka terlihat membawa keranjang kecil berisi buah-buahan liar yang mereka temukan di hutan. Salah satu anak menjatuhkan beberapa buah ke tanah. Ia berhenti, memungutnya kembali dengan hati-hati, membersihkannya dengan kain kecil, lalu memasukkannya ke keranjang lagi.

Lynx memperhatikan detail kecil ini—tidak ada yang disia-siakan oleh mereka, bahkan oleh anak-anak sekalipun.

Lynx memfokuskan pandangannya ke bagian lain kampung, di mana seorang pria tua duduk di bawah pohon besar. Di pangkuannya ada alat musik sederhana yang terbuat dari bambu. Pria itu memainkan melodi lembut yang terdengar samar hingga ke tempat Lynx bersembunyi. Suara itu menyatu dengan gemerisik daun di angin dan kicauan burung di sekitar kampung. Lynx mendapati dirinya tenggelam dalam harmoni suara itu sejenak, seolah-olah ia bisa merasakan kedamaian yang mengalir dari kampung ini.

Ia terus mengamati, memperhatikan bagaimana penduduk kampung ini memperlakukan lingkungan mereka. Mereka mengambil apa yang mereka butuhkan tanpa merusak atau berlebihan. Bahkan rumah-rumah mereka tampaknya dibangun dari bahan-bahan alami—dinding dari kayu ringan, atap dari daun kering yang dianyam.

Di sudut lain, seorang pria muda sedang memotong batang bambu besar menjadi ruas-ruas kecil. Di sampingnya, seorang wanita merajut tali dari serat tumbuhan, tangan-tangannya bergerak cekatan.

Penampilan mereka menggunakan pakaian sederhana dari bahan alam seperti kulit binatang dan tumbuhan, ciri khas mereka terdapat hiasan dengan motif-motif alam seperti daun, bunga, atau bulu burung. Sedangkan prianya, memiliki rambut panjang yang diikat atau digelung.

Lynx sangat yakin jika mereka berbeda dengan orang-orang yang dia lawan sebelumnya–suku Monrest. Hatinya dipenuhi dengan campuran kekaguman dan rasa penasaran. “Siapa mereka sebenarnya?” pikir Lynx.

Namun, ia tahu ia tidak bisa berlama-lama di sini. Meski semuanya terlihat damai, Lynx tetap tidak yakin apakah penduduk kampung ini akan menerima kehadirannya atau menganggapnya ancaman. Ia memutuskan untuk kembali ke gua nanti malam dan membicarakan semuanya dengan Leena dan Sherly.

Saat Lynx mulai bergerak mundur untuk meninggalkan tempat itu, matanya sempat melihat seorang wanita tua yang berjalan membawa sekumpulan dedaunan kering. Wanita itu berhenti sejenak, menatap ke arah hutan, seolah-olah menyadari sesuatu. Lynx menahan napas, takut ia telah terlihat. Tetapi setelah beberapa saat, wanita itu melanjutkan langkahnya, menghilang di balik salah satu gubuk.

Lynx menarik napas lega dan menyelinap pergi, langkahnya pelan namun pasti. Di tengah perjalanan pulang, pikirannya terus berputar, mencoba memahami penduduk kampung itu lebih jauh. Mereka berbeda, ya, tetapi apakah perbedaan itu berarti mereka bisa dipercaya?

Dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Belum.

Ketika Lynx sedang berencana kembali ke gua, Seorang pria bertubuh kekar yang pernah dilihatnya sebelumnya kini muncul lagi, membawa busur sederhana dan beberapa anak panah. Pria itu tampaknya pemburu, sering meninggalkan kampung untuk mencari hewan buruan.

Lynx memutuskan untuk mengikutinya dari jauh. Langkahnya berhati-hati, memastikan setiap pijakan tidak menimbulkan suara. Di hutan seperti ini, terlalu mudah menarik perhatian yang tidak diinginkan—entah dari manusia atau makhluk lain.

Pria itu berjalan pelan, sesekali membungkuk untuk memeriksa jejak di tanah. Mata Lynx mengikuti gerakannya, penasaran sekaligus waspada. Ia ingin tahu lebih banyak tentang orang-orang di kampung itu, tetapi ia juga sadar, terlalu dekat berarti risiko besar.

Saat Lynx mengikuti pria tersebut, seekor burung kecil tiba-tiba terbang keluar dari semak-semak, mengepakkan sayapnya dengan panik.

Lynx langsung berhenti, mendengar sesuatu yang lain—suara langkah berat di tanah, disertai geraman rendah yang dalam.

Pria pemburu itu juga menyadarinya. Dia membeku di tempat, matanya memindai sekeliling dengan waspada. Kemudian, dari balik pepohonan, seekor beruang hitam besar muncul. Hewan itu berjalan perlahan ke arah pria tersebut, tubuhnya besar seperti batu raksasa yang bergerak.

Pria itu segera mengambil busurnya, memasang anak panah dengan tangan gemetar. Lynx melihat dari kejauhan, menyadari bahwa panah kecil itu mungkin tidak akan cukup untuk melawan makhluk sebesar itu.

Saat pria itu melepaskan panah, Lynx menahan napas. Panah itu melesat... dan mengenai pundak beruang, tapi hanya membuatnya semakin marah. Hewan itu mengaum keras, suaranya menggema di seluruh hutan.

Pria itu tersentak mundur, tetapi langkahnya terlalu terlambat. Beruang itu menerjangnya dengan kecepatan luar biasa, menjatuhkannya ke tanah dengan satu pukulan cakar.

Lynx merasakan detak jantungnya melonjak. Ia tahu jika tidak melakukan sesuatu, pria itu pasti akan mati.

Tanpa berpikir panjang, Lynx mencabut parangnya dan melangkah keluar dari persembunyian. "Hei! Sini, dasar gumpalan bulu busuk!" teriaknya sekeras mungkin.

Beruang itu berhenti, mengangkat kepalanya dari tubuh pria yang kini tak bergerak. Matanya yang hitam menatap Lynx, geram. Lynx memegang parang di tangan kanannya dan tongkat di tangan kirinya, lalu Ia mengayunkan tongkat ke tanah, membuat bunyi keras. "Kemarilah kalau berani!"

Beruang itu berbalik sepenuhnya, meninggalkan pria yang tergeletak. Lynx mundur perlahan, menjaga jarak. Ia tahu dia tidak bisa melawan makhluk sebesar itu. Satu pukulan cakar saja sudah cukup untuk membunuhnya.

Beruang itu mulai berjalan mendekatinya, gerakannya lambat namun mengancam. Lynx mundur lebih cepat, sampai kakinya tersandung akar pohon. Ia hampir terjatuh, tapi berhasil menopang tubuhnya dengan tongkat.

Ketika beruang itu mulai mempercepat langkahnya, Lynx memungut batu besar dari tanah dan melemparkannya dengan keras. Batu itu mengenai moncongnya, membuat beruang itu mengaum lebih keras. Lynx menggunakan kesempatan itu untuk lari ke sisi lain hutan.

Beruang itu mengejarnya. Langkah kakinya berat, tetapi kecepatan makhluk itu cukup untuk membuat Lynx merasa terpojok.

Lynx terus berlari, kakinya melangkah secepat mungkin melewati semak-semak. Sesekali ia memutar arah, berharap bisa membingungkan beruang itu. Nafasnya mulai terengah-engah, tapi dia tahu dia tidak boleh berhenti.

Ketika beruang itu akhirnya melambat, Lynx menyadari ia berhasil memancing makhluk itu menjauh dari pemburu yang terluka. Namun, ia masih harus menemukan cara untuk meloloskan diri.

Di depan, ia melihat sebuah batang pohon besar yang tumbang. Lynx segera melompat ke atas batang itu, kemudian berlari ke sisi lain, menyelinap di balik pepohonan. Ketika beruang itu sampai di sana, makhluk itu tampak kebingungan, mengendus-ngendus udara.

Lynx memanfaatkan momen itu untuk melarikan diri sejauh mungkin, menahan rasa sakit dari goresan duri di kakinya.

Ketika Lynx kembali ke tempat pria itu terbaring, dia segera berlutut di sampingnya. Darah mengalir dari luka besar di bahu dan kakinya, mengotori pakaian anyaman pria itu. Lynx memeriksa napasnya—pria itu masih hidup, meskipun sangat lemah.

"Kau masih bertahan, kawan," gumam Lynx, merobek sebagian kain dari pinggangnya untuk membalut luka pria itu.

Dia membuka kantong kecilnya dan mengeluarkan daun herbal yang selalu dia bawa untuk keadaan darurat. Dia mengunyah daun itu hingga halus, lalu menempelkannya pada luka pria itu. Bau herbal yang kuat menguar di udara, bercampur dengan bau darah.

Pria itu mengerang pelan, matanya sedikit terbuka. Lynx menepuk pipinya perlahan. "Hei, jangan tidur dulu. Aku sedang mencoba menolongmu."

Pria itu tidak menjawab, tetapi napasnya menjadi sedikit lebih stabil. Lynx melirik sekeliling, mendengar suara-suara samar yang semakin mendekat.

"Karim! Di mana kau?"

Lynx langsung tegang. Suara itu datang dari arah kampung. Ia melihat beberapa bayangan di kejauhan, orang-orang dari kampung itu tengah menyisir hutan.

"Aku tidak bisa tetap di sini," pikirnya. Dia menyelesaikan balutan terakhir pada luka pria itu, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Lynx mengangkat pria itu sedikit, meletakkannya di balik pohon besar. "Semoga mereka menemukanmu secepatnya," katanya pelan sebelum menyelinap pergi.

Lynx terus bergerak, memastikan dia tidak meninggalkan jejak yang jelas. Tubuhnya lelah, dan luka-luka kecil di tangannya mulai terasa perih. Namun, dia tidak berhenti sampai yakin dirinya cukup jauh dari tempat pria itu ditemukan.

Saat mencapai sebuah bukit kecil, Lynx berhenti untuk melihat ke belakang. Di kejauhan, dia bisa mendengar suara orang-orang berseru, tetapi tidak ada tanda-tanda mereka mengikutinya.

"Untuk saat ini, aku aman," gumamnya, mencoba mengatur napas.

Namun, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Siapa orang-orang ini? Mengapa mereka begitu berbeda dari suku Monrest yang selama ini mereka hindari? Dan apakah tindakannya menolong pemburu tadi akan membawa masalah baru?

Lynx tahu ia harus kembali ke gua dan menceritakan semuanya kepada Leena dan Sherly.

